Banyak yang Penasaran Gimana Sih Ta’aruf itu? 7 Jawaban Ini Akan Membuat Rasa Penasaranmu Terjawab
Mau dapat pahala dakwah? Share ke sahabat muslimah lainnya!

Ustadz, ta’aruf itu apa sih?

Kalau ta’aruf berarti nggak boleh saling bertatap atau bertemu, ya?

Berbagai pertanyaan dan spekulasi mengenai ta’aruf seringkali kita dengar atau bahkan terlontar dari mulut kita sendiri. Prosesi yang sangat dianjurkan dalam Islam ini sebenarnya tak ‘seseram’ yang dibayangkan, kok. Sayangnya, banyak yang tak tahu persis mengenai ta’aruf tapi sudah mengeluarkan statement bahwa ta’aruf itu dianggap terlalu kolot karena tak mengikuti zaman. Bener nggak sih?

Dalam Islam, ta’aruf sendiri diartikan sebagai proses pengenalan atau silaturrahmi antar keluarga pria dan wanita yang ingin saling mengenal satu sama lain dengan tujuan mulia, yakni menikah tanpa proses berpacaran seperti orang kebanyakan. Ta’aruf sendiri tak bermaksud ‘memaksakan’ atau ‘menjodohkan’ kedua belah pihak, tapi justru mendorong untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain dengan jalan yang memang sudah ditetapkan dalam Islam.

Tapi, karena nggak sedikit dari kita yang masih asing sama istilah ta’aruf yang sebenarnya simpel dan mudah dipahami ini, kami akan mencoba memaparkannya khusus buat kalian.

1. Ta’aruf itu apa sih?

Di dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat:13, ta’aruf berarti ‘saling mengenal dengan tujuan baik’ dan menurut sumber lain, ini adalah anjuran berkenalan antara pria dan wanita yang ingin menjalin hubungan serius tanpa melewati proses pacaran seperti pada umumnya.
“Lho, kalau nggak pacaran dan PDKT dulu, gimana caranya biar tahu kriteria pasangan kita? Ntar kayak beli kucing dalam karung dong,”
Nah, dalam proses ta’aruf pun ada yang dinamakan ‘pendalaman kriteria’ dari masing-masing pihak dengan atau tanpa wali yang akan membuka tahapan awal dari ta’aruf. Karena proses ta’aruf yang amat menjunjung tinggi kesyariatan dalam Islam inilah dibutuhkan perantara agar hal-hal mudharat tidak terjadi. Jika ada pernyataan kalau ta’aruf itu tak boleh sama sekali bertatap muka, ini kurang tepat. Pertemuan di tahap awal antara kedua belah pihak itu boleh tapi dengan orang tua atau wali dari keduanya sebagai ‘benteng’ dalam rangka pendalaman kriteria calon pasangan. Di sini, kedua belah pihak bisa saling mencari tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing lewat orang tua, wali, atau penilaian pribadi. Jadi, meski tak ada proses pacaran atau PDKT secara langsung, pria dan wanita yang melakukan ta’aruf pun bisa saling mengenal dengan tahapan-tahapan syar’i sesuai ketentuan Islam.

Ta’aruf sendiri ada 2 jenis; yaitu ta’aruf lewat ‘agen’ atau ta’aruf secara kekeluargaan (seperti perkenalan pria dan wanita pada umumnya). Perbedaan dari keduanya pun signifikan, jika proses ta’aruf yang melewati agen itu diwajibkan bertukar biodata atau daftar riwayat hidup, tapi jika lewat jalur kekeluargaan, ta’aruf tak memerlukan biodata dan sejenisnya melainkan hanya silaturrahmi antar keluarga yang betul-betul mendalam dan mengikutsertakan orang tua atau wali dari kedua belah pihak.

2. Ada yang bilang, kalau mau ta’aruf harus mengikuti Liqo’ atau pengajian dulu sebagai penguat keyakinan berta’aruf. Apakah benar seperti itu?

Liqo’ yang dalam Bahasa Indonesia berarti pengajian atau perkumpulan memang bertujuan untuk meningkatkan keyakinan dalam berta’aruf. Dengan panduan dari orang yang memahami betul apaitu ta’aruf dan esensinya seperti, ustadz atau pemuka agama.

Tapi, tak semua yang melakukan ta’aruf melakukan Liqo’ guna mengumpulkan niat, banyak juga dari mereka yang hanya berniat dalam hati serta dipandu orang tua atau wali yang memang mumpuni dalam persoalan ta’aruf beserta tahapan-tahapannya.

3. Sebagai orang awam, banyak dari kita yang mengenal ta’aruf sebagai tahapan untuk menghindari “bersentuhan”. Apakah benar seperti itu?

Sesuai dengan syariat Islam, pria dan wanita yang bukan muhrim memang dilarang untuk saling berinteraksi yang berlebihan atau berpotensi mengundang syahwat. Sama halnya dengan bersentuhan, Islam tak menganjurkannya sebelum mereka menjadi pasangan suami istri yang halal. Jika ada yang bilang tujuan dari ta’aruf itu menghindarkan dari hal-hal berbau mudharat tersebut, itu memang benar karena memang Islam meyakini perkenalan antara kaum pria dan wanita tak harus dilakukan dengan hal-hal yang berlebihan.

4. Dalam setiap proses, tentu ada yang namanya kegagalan. Ini juga berlaku dalam proses ta’aruf nggak sih? Kalau ta’arufnya gagal gimana?

Seperti pada penjelasan awal, sebelum memutuskan berta’aruf, setiap individu diwajibkan untuk menanamkan niat yang kuat dalam dirinya guna memupuk keyakinannya dalam berta’aruf.
Tak hanya pria, wanita pun diwajibkan demikian. Ta’aruf pun bukan sebuah proses yang berpijak pada pemaksaan atau perjodohan secara diskriminatif, oleh karena itu dalam setiap tahapannya selalu diselingi dengan silaturrahmi antar kedua belah pihak guna mencari tahu betul ‘informasi’ yang dibutuhkan demi kelancaran tahap selanjutnya.

5. ‘Kan banyak tuh yang sebelumnya udah pacaran duluan, boleh nggak kalau mau ta’aruf?

Tidak ada larangan-menuju jalan kebaikan dalam Islam. Niatan yang tulus serta keinginan hati yang teguh tentunya bisa menjadi dasar seseorang untuk melampaui tingkat yang lebih tinggi dari sebuah hubungan.

Jika ada seseorang yang benar-benar ingin berta’aruf meskipun sudah pernah berpacaran, ini takkan menjadi masalah karena dalam proses berta’aruf nanti seseorang juga dianjurkan untuk bermuhasabah atau merenungi diri di hadapan sang pencipta atas apa yang telah ia putuskan.

6. Kalau udah berta’aruf, haruskah langsung menikah?

Di dalam Islam sendiri, terlalu lama menunggu itu tak dianjurkan dalam proses ta’aruf. Jika pihak pria telah dua atau tiga kali bersilaturrahmi ke tempat pihak wanita, itu sudah dianggap cukup untuk melanjutkan ke tahapan khitbah atau pertunangan sebagai tanda bahwa keseriusan sudah mulai dijunjung tinggi.

Dalam proses khitbah atau bertunangan ini pun bukan prianya langsung yang memakaikan cincin, namun diwakilkan oleh sang ibu yang sesama muhrim. Setelah proses khitbah ini telampaui, pihak pria dianjurkan untuk segera menghalalkan hubungannya dengan pihak wanita.

“Kalau belum kerja dan nganggur gimana? Masa’ nikah tapi belum punya pegangan tetap?”

Kembali lagi dalam tahapan awal berta’aruf, pihak pria lah yang memulai silaturrahmi ke pihak wanita dengan penuh keyakinan bahwa ia mampu untuk mencukupi kebutuhan calon muhrimnya nanti. Tak lupa, orang tua atau wali dari pihak wanita pun secara bijak menilai apakah pihak pria benar-benar mantap dengan keyakinannya, dilihat pula dari keterangan kedua orang tua pihak pria yang akan menjamin sang wanita nantinya.

7. Di era modern dan serba instan ini, apakah proses ta’aruf itu bermanfaat buat kedepannya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, biarkan Inas (24th), wanita yang pernah berta’aruf untuk menjawabnya:

“Dulu sempat nggak yakin untuk melakukan ta’aruf, karena masih tabu aja. Dulu suamiku yang berinisiatif untuk memulai proses ta’aruf karena dia yakin ini yang terbaik. Awal pertemuan kita yang tak disengaja, membuatnya datang ke rumah untuk menemui bapak keseokan harinya. Ia banyak membicarakan tentang aku kapada bapak, ibu pun menyaksikan. Ia berinisatif untuk mengambil jalan ta’aruf dan berlanjut ke proses khitbah setelah dua bulan lamanya saling mengenal masing-masing lewat kedua orang tua. Aku pun setuju, bapak dan ibu pun demikian. Kami tak pernah bertemu seperti pasangan pada umumnya. Dalam setiap obrolan pun selalu didampingi bapak ibu untuk memaksimalkan proses ta’aruf yang telah disepakati bersama ini.
Setelah dua bulan, barulah kami memutuskan untuk melangsungkan perniakahan yang telah disiapkan dalam waktu 4 bulan. Semuanya lancar, karena memantapkan hati, pikiran serta raga memang yang sangat dibutuhkan dalam proses ta’aruf ini,”

Inas, 24th

Tanpa bermaksud menggurui dan mengunggulkan agama manapun, kami hanya bermaksud menambah pengetahuan seputar proses ta’aruf yang masih sering dianggap asing oleh sebagian orang. Semoga penjelasan singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Facebook Comments

Mau dapat pahala dakwah? Share ke sahabat muslimah lainnya!